Korban Human Trafficking, 5 Tahun Putus Sekolah dan Belum Miliki e-KTP

RubriKNews.com , BENGKULU UTARA– Miris, Yuni warga Desa Tanjung Sari Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara, sepanjang menjadi korban diduga perdagangan manusia yang keren di perdagangan manusia. Belum pernah mengenyam bangku sekolah, sejak ia berangkat 14 tahun. Ironisnya lagi, 6 tahun di genggaman pihak yang mengambil yayasan, diusianya yang menginjak 19 tahun ini, belum juga memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik. Hal ini pun disetujui oleh Yuni sendiri, kompilasi berbincang dengan awak media Selasa kemarin (19/2) di ruang media center Humas Pemkab BU.

Baca:  Dugaan Perdagangan Manusia, ABG Yang Hilang Dari Umur 14 Tahun Kembali Ke Bengkulu Utara

“Saya belum memiliki KTP pak, sekolah tambahan. Selama di yayasan, saya tidak pernah duduk di bangku sekolah,” katanya.

Menanggapi hal ini, kepala Disdukcapil BU Juhirjo akan meminta hal tersebut, mengatakan. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak Dinas PPPA, terkait pembuatan KTP Elektroniknya. Karena hal ini sangat penting, sebelum berumur Yuni sudah menginjak usia 19 Tahun.

“Kita akan segera berkoordinasi dengan pihak PPPA BU. Kita melihat beberapa hari kedepan, inshaallah, Yuni dalam beberapa bulan Februari ini sudah bisa ngantongi KTP. Namun sebelum itu, kita akan cek dulu Kartu, ditonton lagi. Jika ada, akan langsung dilakukan perekaman , yang hanya menunggu 38 menit, KTPnya sudah siap diambil, “terang Juhirjo.

Sementara itu, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkulu Utara Margono, juga menyerahkan terkait nasib korban Perdagangan Manusia ini, yang selama diterima-tahun tidak mendapatkan hak pendidikan. Disampaikan Margono, pihaknya juga akan meminta berkoordinasi dengan pihak PPPA, guna memberikan tempat dan waktu untuk korban ini mendapatkan pendidikan yang layak. Meskipun, dilihat dari umurnya sudah terlambat, mengingat usia korban sudah 19 tahun.

“Namun, untuk pendidikan tidak ada istilah kata terlambat. Kita hanya melihat dari kemauan punggung, apakah dia mau bersekolah atau tidak. Hanya tinggal lagi, kita akan memperjuangkan pendidikannya, untuk mendapatkan paket kursi sekolah,” singkat Margono.

Laporan: Redaksi

Related posts

Leave a Comment